Teori Kepribadian Psikoanalisa


1.1              Latar Belakang.

Manusia merupakan mahluk yang fleksibel, Memiliki jasad dan jiwa untuk kehidupan yang mereka rasakan. Karakter manusia terkadang berubah-ubah dari waktu ke waktu untuk memperbaharui apa yang ada dalam imajinasinya sehingga membutuhkan kepribadian tingkat tinggi untuk melakukan dengan menyesuaikan kepribadiannya.

Kepribadian manusia sangatlah sulit untuk di pelajari, selain karakter manusia yang sering berubah, setiap gerak geriknya terdapat makna yang tidak dapat disimpulkan secara pasti dan sangat abstrak untuk di pelajari.

Freud mengembangkan sebuah penjelasan tentang struktur dasar kepribadian. Teorinya menyebutkan bahwa kepribadian seseorang sejatinya terbentuk dari tiga komponen seperti ID, EGO, dan SUPEREGO. Dan berkaitan erat dengan makalah yang kami buat yaitu tentang teori kepribadian psikoanalisa.

1.2              Rumusan Masalah.

  • Apa yang dimaksud teori psikoanalisa?
  • Bagaimana dinamika kepribadian dalam teori psikoanalisa?
  • Bagaimana perkembangan kepribadian menurut teori psikoanalisa?

1.3              Tujuan Masalah.

  • Ø Mengetahui definisi teori psikoanalisa.
  • Ø Memahami dinamika kepribadian dalam teori psikoanalisa.
  • Ø Memahami perkembangan kepribadian menurut teori psikoanalisa.

 


BAB II

PEMBAHASAN

 

 

2.1    Kepribadian dalam konteks psikoanalisa

Kepribadian adalah keseluruhan cara di mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang.

Kepribadian tidak lepas dari cakupan terhadap psikoanalisa yang ada, karena psikoanalisa mencerminkan dinamika-dinamika psikis yang menghasilkan gangguan jiwa atau penyakit jiwa. Dinamika psikis terjadi melalui sinergi dan interaksi-interaksi elemen psikis setiap individu. Seksualitas Freud sebagai sebuah dinamika, menangkap ada bermacam-macam potensi psikopatologi dalam setiap peta id, ego, dan superego.

Teori psikoanalisa adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini mengasumsikan bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek psikologis tersebut, yang pada umumnya terjadi pada anak-anak dini.
Pemahanan freud tentang kepribadian manusia didasarkan pada pengalaman-pengalaman dengan pasiennya, analisis tentang mimpinya, dan bacaannya yang luas tentang beragam literature ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Pengalaman-pengalaman ini menyediakan data yang mendasar bagi evolusi teorinya. Baginya, teori mengikuti observasi, dan konsepnya tentang kepribadian terus mengalami revisi selama 50 tahun terakhir hidupnya.
Meskipun teorinya berevolusi, freud menegaskan bahwa psikoanalisis tidak boleh jatuh ke dalam elektisisme, dan murid-muridnya yang menyimpang dari ide-ide dasar ini segera akan dikucilkan secara pribadi dan professional oleh freud.
Freud menganggap dirinya sebagai Ilmuan. Namun, definisinya tentang ilmu agak berbeda dari yang dianut kebanyakan psikolog saat ini. Freud lebih mengandalkan penalaran deduktif ketimbang metode riset yang ketat, dan ia melakukan observasi secara subjektif dengan jumlah sampel yang relative kecil. Dia menggunakan pendekatan studi studi kasus hampir-hampir secara secara ekslusif , merumuskan secara khas hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta kasus yang diketahuinya.

2.2    Teori Sigmund Freud

Sigmund Feud memiliki teori yang sangat spektakuler dalam perkembangan dinamika psikologi yang dikenal dengan struktur kepribadian yaitu id, ego dan superego.

a. Id

Adalah struktur paling mendasar dari kepribadian yang di miliki seseorang sejak di lahirkan, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan (pleasure principle), tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.

b. Ego

  Ego muncul setelah usia 1 tahun, ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral.

c. SuperEgo

Superego muncul ketika dewasa, ia bertugas merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntutan moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah.

Ketiga komponen kepribadian ini berkembang melalui tahap-tahap perkembangan psikoseksual yang dibagi menjadi lima tahap sebagai berikut:
Phalic Anal 0-1  : Bayi merasakan kenikmatan pada daerah mulut. mengunyah, menggit dan menghisap adalah sumber utama kenikmatan.

Latency 1-3 : Kenikmatan terbesar anak terdapat di sekitar daerah lubang anus. Rangsangan pada daerah anus ini berkaitan erat pada kegiatan buang air besar.

Genital 3-6 : Kenikmatan berfokus pada alat kelamin, ketika anak menemukan bahwa manipulasi diri dapat memberi kenikmatan anak mulai menaruh perhatian pada perbedaan- perbedaan anatomik antara laki- laki dan perempuan, terhadap asal usul bayi dan terhadap hal- hal yang berkaitan dengan kegiatan seks.

6-12 : Anak menekan semua minat terhadap seks dan mengembangkan keterampilan sosial dan intrlektual. Kegiatan ini menyalurkan banyak energi anak kedalam bidang- bidang yang aman secara emosional dan menolong anak melupakan konflik pada tahap phalic yang sangat menekan.

12- dewasa : Dorongan- dorongan seks yang ada pada masa phalic kembali berkembang, setelah berada dalam keadaan tenang selama masa latency. Kematangan fisiologis ketika anak memasuki masa remaja, mempengaruhi timbulnya daerah- daerah erogen pada alat kelamin sebagai sumber kenikmatan.

Karakter

Pengalaman yang di peroleh di masa-masa pertumbuhan sangat mempengaruhi kepribadian dan karakter seseorang setelah dewasa. Menurut freud, pengalaman traumatis adalah yang sangat berpengaruh. Setiap trauma pasti memiliki dampak yang unik pada diri seseorang, yang hanya bisa di pahami berdasarkan latar belakang individual. Namun trauma-trauma yang menyangkut tahap perkembangan memiliki dampak yang hampir sama pada setiap orang, sebab setiap orang pasti melewati tahap-tahap ini.

  1. Fiksasi: Jika seseorang mengalami kesulitan ketika menjalani tahap-tahap perkembangan seperti, menghisap, belajar buang air sendiri, atau ketika menemukan identitas seksual, ini memberiarti bahwa kepribadian tetap terkurung di masa kanak-kanak yang disebut dengan fiksasi, yaitu kendala yang ditemukan pada satu tahap tetap bertahan dan mempengaruhi kepribadian atau karakter di tahap-tahap berikutnya.
  2. Karakter oral-pasif: kalau di usia 8 bulan pertama seseorang mendapat hambatan dalam mendapatkan keinginan dalam hal ini menyusu, maka orang ini akan berkembang menjadi seseorang yangcenderung bergantung dengan orang lain atau cenderung menginginkan hal-hal yang berhubungan dengan mulut, seperti makan, minum, merokok.
  3. Kepribadian oral agresif : ketika berusia 5-8 bulan pekerjaan yang paling menyenangkan adalah menggigit sesuatu, jika hal ini mengalami kendala maka akan terbentuk kepribadian yaitu memiliki hasrat untuk menggigit, seperti pensil, gagang kacamata,permen karet, atau orang lain.mereka cenderung argumentative, agresif, sarkastis.
  4. Kepribadian anal agresif: orang tua sangat berperan dalam hal ini, ada sebagian orang tua yang tidak terlalu ngotot mengajari anaknya buang air sendiri ke toilet. Mereka akan gembira sekali kalau anak berhasil melakukannya dengan baik dan tidak terlalu kecewa ketika anak gagal melakukannya dengan baik, mereka berpikir suatu saat anak akan dapat melakukannya, hal ini mempengaruhi kepribadian anak menjadi cenderung tidak rapi, sembarangan, dan ceroboh.
  5. Kepribadian anal-retentif: kebalikan dari kepribadian anal agresif, orang tua bersikap keras mungkin mengunakan hukuman, atau cemooh dalam mengajari anaknya buang air sendiri. Anak akan cenderung menjadi gila akan kebersihan, perfeksionis, keras kepala, dan agak dictator dengan kata lain sangat kaku dalam segala hal.
  6. Kepribadian phallic: kalau seorang anak laki-laki merasa tidak diacuhkan ibunya dan terancam dengan kemaskulinan ayahnya, dia tidak akan percaya diri terhadap kemampuannya sendiri, terutama dalam persoalan seksualitas. Dia mungkin akan merasa terancam dan tersiksa ketika berinteraksi dengan lawan jenisnya, beralih jadi kutu buku, tidak menyenangi hal-hal yang bersifat laki-laki dan lebih suka hidup seoerti wanita(banci). Begitu juga pada perempuan yang tidak diacuhkan ayahnya dan merasa terancam oleh kefeminiman ibunya, juga tidak akan peka terhadap potensi dirinya sendiri, sehingga kepribadiannya berkembang menjadi kelaki-lakian(tomboy).

Sebaliknya kalauseorang anak laki-laki terlalu diperhatikan ibunya dan tidak di biarkan dekat dan meniru ayahnya, dia akan mengaggap dirinya tidak bisa hidup tanpa ibu, karena tidak ada di dunia ini yang menyayanginya seperti ibunya. Diapun tidak akan mengidentifikasi diri dengan ayahnya. Begitupula seorang anak perempuan yang terlalu diperhatikan dan dimanja ayahnya dan fungsi ibu tidak terlalu dominan dalam hidupnya, dia akan menjadi gadis manja, keras kepala, egois, dan tomboy.

Ego mempunyai tugas yang sangat berat sebagai penyeimbang antara Id dengan Superego, sehingga merasa terancam dan dirundung kecemasan. Menurut freud ada tiga jenis kecemasan: pertama, kecemasan realistic. Dalam kehidupan sehari-hari kecemasan ini kita sebut sebagai rasa takut.

Kedua, kecemasan moral. Ini akan kita rasakan ketika ancaman datang bukan dari luar, dari dunia fisik, tapi dari dunia social superego yang telah terinternalisasi kedalam diri kita, dengan kata lain yaitu rasa malu, rasa bersalah, atau rasa takut mendapat sanksi. Terakhir, kecemasan neurotic. Perasaan takut jenis ini muncul akibat rangsangan-rangsangan id. Kalau anda pernah merasakan kehilangan id, gugup, tidak mampu mengendalikan diri, perilaku, akal, dan pikiran anda, maka anda saat itu sedang menggalami kecemasan neurotic yang biasanya hanya di sebut dengan kecemasan saja. Maka dari itu terciptalah sembilan pertahanan diri yang lebih kita kenal dengan defend mechanism ego.

a. Represi

Represi merupakan penyimpanan suatu ingatan yang pernah dialami ke dalam alam tidak sadar sehingga tidak akan muncul kembali ke dalam kesadaran. Hal-hal yang direpres merupakan kejadian-kejadian yang menimbulkan ancaman bagi ego seperti kejadian yang menyedihkan. Contohnya seorang yang dihianati oleh pasangannya, ia merasa sakit hati dan ingin melupakannya kedalam alam bawah sadarnya sehingga ketika ia sadar kejadian yang membuat dia sakit hati akan lupa.

b. Reaction formation

Reaction formation membuat manusia bereaksi sebaliknya dari yang ia kehendaki, dalam rangka menyesuaikan diri dengan superego. Contohnya seorang kakak sangat begitu membenci terhadap adiknya karena telah menyebabkan ayahnya meninggal dunia, kemudian ia ingin sekali membunuh adiknya, tetapi karena superego tidak memperkenankan akhirnya ia lampiaskan pada kasih sayang yang berlebihan terhadap adiknya dan penuh kepura-puraan hingga adiknya merasa tidak suka.

  1. c.  Proyeksi

Manakala dorongan dari dalam menyebabkan kecemasan yang berlebihan, ego biasanya mengurangi rasa cemas tersebut dengan mengarahkan dorongan yang tak diinginkan ke objek eksternal, biasanya ke orang lain. Misalnya, seorang pria secara konsisten mengartikan tindakan dari wanita yang lebih tua sebagai upaya untuk menggoda dirinya. Secara sadar, pikiran melakukan hubungan seksual dengan wanita yang lebih tua membuat pria tersebut jijik, tetapi tersembunyi dialam tidak sadar terdapat ketertarikan erotis yang kuat pada wanita-wanita tersebut

d. Displacement (pengalihan)

Adalah dimana seseorang tidak dapat  melampiaskan kekesalannya terhadap orang yang dituju sehingga ia melampiaskannya kepada orang ataupun benda yang lain. Misalnya, seorang perempuan yang marah pada teman sekamarnya bisa mengalihkan rasa marahnya kepada para pegawainya, kucing peliharaannya, ataupun boneka miliknya tetapi tetap menunjukan sikap yang ramah pada teman sekamarnya.

  1. e.  Rasionalisasi

Ketika dorongan-dorongan id ingin keluar tetapi ditahan oleh superego, maka ego akan berusaha untuk menalarkan dorongan tersebut sedemikian rupa agar tindakan tersebut dapat dibenarkan. Tindakan tersebut adalah rasionalisasi. Seringkali para orang tua memukul anaknya dengan alasan untuk mendidik anaknya. Memukul anak adalah dorongan id yang ingin dikeluarkan, dan dalih mendidik anak adalah rasionalisasi yang dilakukan oleh sang ego agar dapat diterima oleh superego. Padahal tetap saja memukul anak adalah kegiatan yang negatif.

f. Supresi

Sama seperti represi, supresi juga menekan sesuatu yang dianggap membahayakan ego ke dalam alam ketidaksadaran. Bedanya, supresi menekan hal-hal yang berasal dari ketidaksadaran sendiri dan belum pernah muncul ke alam sadar. Contoh dari supresi yaitu dorongan Oedipus complex (dorongan seksual anak laki-laki yang mencintai ibunya).

g. Sublimasi

Sublimasi adalah mengalihkan dorongan-dorongan yang tidak diperkenankan untuk muncul oleh superego ke dalam bentuk yang dapat diterima oleh superego. Misalnya adalah dorongan agresi untuk membunuh orang. Dorongan ini tentu saja tidak akan diterima oleh superego karena tidak sesuai dengan norma masyarakat; dorongan ini akan dialihkan menjadi bentuk lain misalnya bertinju agar dapat diterima oleh superego.

h.Kompensasi

Seseorang merasa lemah di suatu bidang, lalu berusaha untuk meningkatkan prestasinya di bidang lain merupakan bentuk dari kompensasi. Kompensasi ini bertujuan agar ego tidak terluka karena rasa rendah diri. Contohnya, seseorang pria yang kurang pandai dalam pelajaran matematika akan berusaha meningkatkan prestasinya dalam bidang olahraga agar ia tetap dapat menerima dirinya.

  1. Regresi

Regresi merupakan pemunduran kondisi psikologis individu ke tahap sebelumnya yang lebih aman dan nyaman, untuk menghindari ancaman terhadap ego. Misalnya seseorang yang sudah memasuki usia dewasa tetapi belum siap untuk menjadi individu yang dewasa akan bersikap kekanak-kanakan kembali, seperti kembali bermain mainan anak-anak atau lainnya.

BAB III

PENUTUP

 

3.1 KESIMPULAN

Pada pembahasan diatas dapat kita ambil beberapa kesimpulan yang terbagi dalam poin-poin berikut:

  1. Teori psikoanalisa adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini mengasumsikan bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek psikologis tersebut.
  2. Psikoanalisa berkaitan erat dengan kepribadian seseorang yang di tunjukkan melalui teori

milik Sigmund freud yang memuat tentang struktur kepribadian (Id, Ego dan Super Ego).

  1. Pengalaman traumatis sangat berpengaruh pada kepribadian seseorang, seseorang yang mengalami hambatan dalam tahap-tahap perkembangan akan berpenggaruh pada kepribadian seseorang di masa dewasa.

DATAR PUSTAKA

            Zaviera, Ferdinand. 2008. Teori kepribadian sidmund freud. Jogjakarta: Prismasophie.

wade, carole; tavris,carol. 2007. Psikologi, edisi ke-9. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Feist, jess; feist, Gregory j. 2010. Theories of personality. Salemba humanika.

Jangan Lupa Komentarnya Yaa :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s