Agresi

1.      Pengertian Agresi

            Perilaku yang memiliki tujuan untuk menyakiti seseorang baik secara fisik atau psikologi.

Agresifitas adalah kecenderungan tingkah laku maupun perasaan agresif yang ditunjukan untuk menyakiti orang lain secara fisik, verbal, kemarahan maupun bermusuhan dengan atau tanpa tujuan tertentu, dilakukan secara langsung, kecenderungan perilaku tersebut karena potensi dasar yang telah ada dan dapat berkembang melalui stimulasi.

Myers (1998) mengungkapkan yang dimaksud dengan perbuatan agresi adalah perilaku fisik atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti atau merugikan orang lain. Sedangkan menurut Berkowitz (1993) agresi merupakan suatu bentuk perilaku yyang mempunyai niat untuk melukai secara fisik maupun psikologi morang lain.

2.      Teori Tentang Agresi

  • Teori Psikoanalisa dan Biologi

Agresi Sebagai Suatu Dorongan

Freud memandang agresi sebagai naluri dasar. Energi naluri kematian terbentuk dalam diri organisme sampai suatu saat harus dilepaskan ke luar, dalam bentuk agresi nyata, atau ke dalam, dalam bentuk tindakan-merusak diri.

 Dasar Biologis Agresi

Beberapa individu yang mengalami kerusakan otak bereaksi secara segresif terhadap stimulasi yang dalam kondisi normal tidak menimbulkan perilaku agresif, dalam kasus ini, kendali korteks tidak bekerja dengan baik. Tetapi pada indifidu normal, frekuensi pengungkapan perilaku agresif, bentuk ekspresinya, dan situasi dimana perilaku itu dimunculkan, sangat ditentukan oleh proses belajar dan pengaruh sosial.

  • Teori Belajar Sosial

 Agresi Sebagai Suatu Respon yang Dipelajari

Teori belajar sosial menolak konsep agresi sebagai suatu naluri atau dorongan yang disebabkan oleh frustasi dan mengemukakan bahwa agresi tidak berbeda dengan respon-respon yang dipelajari lainnya.

Imitasi Agresi

Sejumlah penelitian menunjukan bahwa respon agresif dapat dipelajari melalui imitasi. Anak taman kanak-kanak yang mengamati seseorang dewasa yang mengekspresikan berbagai bentuk perilaku agresif terhadap sebuah boneka plastik yang besar akan segera melakukan imitasi terhadap tindakan orang dewasa tersebut, termasuk pol-pola perilaku agresif yang tidak konvensional dan biasa.

Penguatan Agresi

Anak lebih mungkin mengekspresikan respon agresif yang mereka pelajari melaui pengamatan terhadap model agresiff bila mereka mendapat penguatan karena melakukan tindakan semacami itu atau bila mereka melihat model agresif itu mendapat penguatan.

Perilaku agresi akan semakin meningkat atau menurun tergantung sejauh mana penguat yang diterima. Perilaku agresi yang disertai penguat positif (reward) akan meningkatkan perilaku agresi, sedangkan perilaku agresif yang diikuti penguat negatif (punishment) akan menurunkan perilaku agresi.

  • Teori Kognitif

Dalam praktek, teori ini antara lain digunakan untuk menerangkan agresivitas di Bosnia. Menurut Coleman (1993), agresivitas di Bosnia sangat terkait dengam pembentukan skema sejak masa kanak-kanak tentang hubungan antara pembatasan dan kekuasaan.. dalam skema ini digambarkan perbatasan wilayah hanya dapat diubah melalui kekuatan dan kekuasaan. Konsekuensinya tidak lain adalah perang ( agresi).

  • Teori lain mengenai perilaku agresi yang cukup penting adalah hipotesis frustasi-agresi yang dikemukakan Dollard dkk., ( Atkinson dkk,. 1993) yang beransumsi bahwa bila usaha seseorang untuk mencapai tujuan mengalami suatu hambatan, maka akan timbul dorongan agresif yang pada gilirannya akan memotifasi perilaku yang dirancang untuk melukai orang atau objek yang menyebabkan frustasi.

3.      Jenis-Jenis Perilaku Agresi

1)      Perilaku melukai dan maksud melukai

2)      Perilaku agresi yang antisosial dan prososial

3)      Perilaku dan perasaan agresi

Seorang ahli lain, Myers (1998) membedakan perilaku agresi berdasarkan fungsinya, yaitu:

1)      Agresi yang berfungsi untuk mencari kepuasan dari lingkungan sekitarnya.

2)      Agresi yang berfungsi menghancurkan “pusat rasa sakit” yang dirasakan, atau dengan perkataan lain tujuannya untuk mengurangi atau menghilangkan sumber yang menyebabkan rasa sakit dalam diri.

4.      Faktor-Faktor Pencetus Perilaku Agresi

a)      Prasangka Sosial

Prasangka mempengaruhi persepsi atau evaluasi mengenai tindakan agresif. Seperti halnya yang dikemukakan oleh sears dkk (1994) bahwa prasangka berkaitan denga sikap dan perilaku seseorang atau kelompok terhadap orang atau kelompok lain.

b)     Identitas Sosial

Adanya kategorisasi sosial yang dilebih-lebihkan atau yang dibesar-besarkan akibatnya dalam memandang perbedaan ingroup dan outgroup selalu bermuatan emosional. Outgroup dilihat sebagai sesuatu yang homogen, tidak ada perbedaan-perbedaan, anggota outgroup dipersepsi serupa dan sama. Sedangkan ingroup adalah sebaliknya.

Berkowitz (1993) memformulasikan hipotesis frustasi-agresi dengan mengemukakan bahwa ada dua faktor yang menjadi prasyarat bagi munculnya perilaku agresi, yaitu: pertama,  kesiapan untuk berperilaku agresi yang biasanya terbentuk oleh pengalaman frustasi; kedua, syarat-syarat atau stimulus-stimulus eksternal yang memicu pengungkapan agresi.

Jangan Lupa Komentarnya Yaa :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s