Kenangan Indah untuk Mantan Kekasih

 

Seorang sahabat dengan wajah sangat bersedih datang ke rumah saya. Belum lagi uraian keterangan menghiasi pembicaraan, air matanya telah berderai dengan deras hingga akhirnya tercetuslah keinginan yang sungguh mengagetkan saya.

“Saya ingin mati saja. Buat apa saya hidup lebih lama lagi jika begini keadaannya? Saya ingin bunuh diri mbak.”

Innalillahiwainnailaihirajiun. Sesungguhnya, segala sesuatu itu datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Itu yang sesungguhnya. Artinya, hidup dan mati kita ada di tangan Allah. Tak seorang pun yang kuasa untuk mendatangkan kematian pun tak ada seorang pun yang kuasa menghadirkan kehidupan. Tapi mendengar keinginan yang tercetus tersebut, tak urung membuat saya tercenung. Mengapa?

Mengapa tercetus keinginan yang sebegitu dasyat tersebut? Apakah memang hidup sudah begitu memuakkannya hingga harus segera diakhiri? Apakah hidup memang sudah sangat sedemikian tidak berartinya hingga harus segera dihentikan? Apakah karena hidup sudah begitu tak sedapnya hingga harus disingkirkan? Tak ada yang tahu jawabannya.

Tapi ada reka-rekaan. Yaitu urutan awal permasalahan atau biasa disebut sebab musabab hingga lahirlah keinginan dasyat tersebut. Yaitu kehendak yang tidak tercapai.

Usut punya usut, ternyata sahabat saya itu baru putus cinta dengan kekasihnya. Kekasihnya itu memutuskan hubungan karena dalam perjalanan percintaan mereka, kekasihnya tersebut bertemu dengan orang ketiga yang ternyata dirasakan lebih cocok ketimbang ketika bersama dengan sahabat saya itu. Akhirnya. Sahabat saya ditinggalkannya dan jadilah kejadian kemarin terjadi. Sahabat saya merasa kecewa berat dan ingin bunuh diri karenanya. Apakah ini jalan pintas?

“Buat apa kamu bunuh diri hanya karena putus cinta?”

“Entahlah mbak. Saya ingin mati saja karena saya sangat mencintai dia. Rasanya hidup ini tidak akan indah lagi jika dia tidak ada di sisi saya.” (Alamak.. )

“Tapi apa dampak terbesar yang akan kamu peroleh dengan peristiwa bunuh diri tersebut?” Saya bertanya padanya, mencoba mengajaknya berpikir dahulu sebelum dia melakukan peristiwa dasyat tersebut.

“Yang pasti, dia akan tahu bahwa saya sangat kecewa dengan tindakannya itu dan agar dia tahu bahwa saya sangat mencintainya.”

“Hanya itu?”

“Ya, Hanya itu.”

“Hanya itu?” Kembali saya bertanya dengan pertanyaan yang sama. Sahabat saya tidak menjawab. Sebaliknya dia mengkerutkan keningnya keheranan karena saya bertanya dua kali. Lalu saya kembali bertanya, “Ayo apa lagi alasannya, masa hanya itu?” Dia semakin keheranan.

“Apa lagi?” Ujarnya.

“Terserah. Tapi saya mengharapkan jawaban alasan yang lebih dasyat dari itu. Bunuh diri itu peristiwa yang sangat dasyat. Ganjarannya kamu akan masuk neraka, kelanjutannya kamu tidak akan lagi hidup di dunia ini, sambungannya kamu akan berdiam di alam kubur dengan azab kubur yang menanti. Ke depannya, semua kenangan yang pernah kamu miliki akan dilupakan orang. Semua prestasi, semua pangkat, semua kedudukanmu akan habis dilupakan orang. Yang orang akan kenang dari dirimu hanya satu, itu si A yang mati bunuh diri karena putus cinta. Tak ada lagi yang kenal kamu sebagai A yang pandai, atau yang cantik, atau yang berprestasi, dan sebagainya. Jadi, untuk semua itu, untuk memperoleh semua kemalangan yang bererot panjang tersebut setelah kamu meninggal kelak, harus ada alasan yang maha dasyat. Sangat dasyat. Itu sebabnya saya bertanya, mengapa hanya itu alasannya.” Sahabat saya tercenung.

“Tapi setidaknya saya bisa menunjukkan pada mantan saya itu bahwa saya sangat mencintainya.”

“Dia tahu itu. Itu sebabnya selama ini dia bersedia jadi pacar kamu.”

“Saya ingin dia tahu bahwa saya sangat kecewa dengan tindakannya.”

“Dia mungkin tahu itu. Tapi kamu harus ingat satu hal. Dia juga tahu apa yang dia inginkan untuk kebahagiaan hidupnya sendiri. Bisa jadi, sebelum dia bertemu dengan orang lain, dia terus mempertimbangkan apakah kamu memang layak jadi pendamping hidupnya. Setelah waktu berjalan dan tanpa sengaja bertemu dengan orang lain, dia akhirnya sadar bahwa kamu bukan yang terbaik untuk kebahagiaan hidupnya. Percayalah. Dia tahu bahwa sudah mengecewakan kamu, tapi dalam hal ini, dia di hadapkan pada dua pilihan. Kebahagiaan dia sendiri atau kebahagiaan kamu. Jika dia bertahan denganmu, bisa jadi dia akan bahagia tapi mungkin hanya sampai huruf M, tidak sampai Z, dan dalam perkiraannya dia akan mencapai kebahagiaan sampai huruf Z jika bersama dengan yang baru. Begitu. Semua orang jika dihadapkan pada pilihan antara dirinya dan diri orang lain, maka cenderung untuk lebih memilih dirinya terlebih dahulu baru orang lain. Apalagi hal-hal yang menyangkut warna hidup kita seterusnya.”

“Kalau begitu biarlah dia mengenang saya selamanya.”

“Percayalah, jika kamu tetap mempertahankan hidup, lalu di hari depan kamu lebih berprestasi ketimbang hari ini, kenangan indah yang ada di dalam benaknya lebih berarti karena akan menerbitkan kebanggaan. Bisa jadi, dia suatu hari akan melihat wajahmu di koran misalnya karena baru habis memenangkan nobel misalnya sambil bilang, ‘lihat, dulu dia pernah jadi teman dekat saya’. Itu kenangan yang dasyat ketimbang kenangan memperhatikan wajahmu di photo album dengan pandangan kasihan karena kamu mati bunuh diri.”

Ah. Jika hidup masih bisa diberi arti yang lebih spesial dan bermakna, mengapa harus diakhiri dengan cara melawan takdir?

Ade Anita (adeanita_26@yahoo.com.au)

Jakarta, mei 2004

Jangan Lupa Komentarnya Yaa :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s