Meraga Sukma

 

“Di mana aku? Gelap, anyir, amis dan eh… ini siapa? Kok, pada terbaring semua? Di mana ini?! Apa yang terjadi denganku?” Semuanya hitam kelam, bisu dan hampa. Tertatih-tatih ia bangkit, menegakkan seluruh tubuhnya, memandang sekeliling. Raut wajahnya cemas, hatinya gelisah, dan rasa keheranan membuatnya takut. Diamatinya satu per satu yang ada di sana. Semuanya serba remang-remang.

Pelan, ia bergerak, terseok-seok, menghampiri yang paling dekat. Aih, di mana aku? Oh tidak, dimana aku! Tempat apa ini?! Bulu romanya bergidik. Kesunyian itu begitu mencekam. Sejauh mata memandang hanya tertumpu pada gumpalan kelam tak bertepi. Sesekali asap putih semburat di sana-sini.

“Duuk!” Kakinya tersandung sesuatu. Seperti salah satu organ tubuh manusia. Tapi ia tak pasti.

“Hm… kurang ajar, berani kau mengganggu waktu istirahatku yang hanya sebentar ini!!!” Seseorang bertubuh tinggi besar dengan perut gendut berkepala plontos menghardiknya. Orang itu bertelanjang dada. Brewok di mukanya tumbuh liar, sementara bulu-bulu kasar menutupi hampir seluruh dadanya.

“Keparat!! Kenapa kau injak tanganku? Kau pikir aku ini apa, ha?!” Mata brewok itu berubah merah, melotot padanya menahan luapan amarah. Sesekali gemeletuk gerahamnya menambah angker wajah itu.

“Maaf… maaf, aku tidak sengaja! Aku benar-benar tidak sengaja. Kupikir tadi aku … ah, maaf. Di mana ini?” Gelagapan ia menjawab. Rasa heran dan terkejut yang luar biasa membuatnya ketakutan setengah mati. Tanpa sadar, ia melangkah mundur, tak tahan akan tatapan tajam si brewok itu.

“Gedebuk!” Tubuhnya terjerambab pada sosok tubuh manusia.

“Brengseeek…!!!” Jeritan suara melengking itu memaki padanya.

“Siapa yang mau membunuh anakku? Kurang ajar. Setan alas, siapa yang berani mengangguku?!”

“Maaf, maaf… aku tidak sengaja. Kupikir tadi di sini tidak ada apa-apa. Maaf…,” degup jantungnya bertalu-talu menahan ketakutannya dan kengeriannya. Seorang wanita dengan rambut keriap-riapan ditiup angin menuding ke arahnya. Rambutnya panjang sepinggang tergurai ke depan menutupi hampir seluruh wajahnya. Hanya mata itu yang kelihatan, mata itu mendelik padanya sambil tangannya mengusap perutnya yang tengah mengandung.

“Di mana ini… tolong! Tolooong…!!! Di mana aku!” ia berteriak menoleh ke sana kemari. Astri!!! Dedy, Jhonny… Dina, Rika…Di mana kalian!!! Tolong aku… oh tidak. Siapa kalian! Mengapa aku ada di sini.” Tak terasa ia menyebut nama-nama orang yang sangat disayanginya; istri dan anak-anaknya. Wanita dan si brewok itu berjalan menghampirinya. Jalannya tidak lumrah. Seakan telapak kaki mereka tidak menyentuh tanah. Perlahan mereka mengelilingi orang itu, memelototinya dari ujung rambut hingga mata kaki. Orang itu berjas hitam dan berdasi warna warni. Memakai sepatu mengkilap dan berjam tangan mewah. Di saku kiri atas tergantung dua buah bolpoin. Kaca matanya tidak karuan letaknya, sebelah kiri melorot terlalu ke bawah, mungkin terhantuk ketika ia jatuh tadi.

“Haha… ha… sepertinya kau orang baru yah? Kapan kau tiba? Selamat datang di sini. Tempat kau menanti adzab dan siksa.” Brewok itu tertawa mengejeknya.

“Hai, orang muda! Dari lagak dan gerak-gerikmu, aku tahu kau bukan orang baik-baik. Kerjamu hanya mengumbar nafsu dunia. Menipu, korupsi, dan makan harta haram. Orang seperti kamu ini memang patut dienyahkan lebih cepat.dari muka bumi. Hik… hik…,” si wanita itu tertawa nyaring penuh hinaaan. Keparat! Orang itu merutuk dalam hatinya. Ini mimpi. Yah, mimpi. Diperhatikannya sekujur tubuhnya. Alisnya mengerut. Mengapa jas dan kemejaku penuh noda darah? Oh, tidak. Ada luka menganga di pahanya. Luka itu telah kering. Aneh, mengapa ia tidak merasa sakit, diusapnya wajahnya, ada serpihan kaca-kaca halus, menancap di sana-sini.

“Ha… ha… dasar tolol, bodoh. Coba kau lihat sekitarmu. Kau dimana? Ha… ha.. tadi siapa yang kau panggil, ha? Astri, siapa itu? Sampai kiamat pun, ia tak bakalan datang. Selamat datang di sini, di tempat ini. Tempat kau menunggu hari kiamat, tempat kau disiksa seperti aku. ha.. ha…,” brewok itu kembali mengejeknya.

“Stupid, damn you, bull shit! Pergi… jangan ganggu aku!” kesal dia direndahkan terus menerus.

“Sudah… sudah! Mengapa ribut-ribut. Pak Parno dan Mbak Siska, ada apa sampai bising-bising segala.” Satu suara datar muncul dari samping kirinya. Ah, ternyata hanya seorang petani miskin yang mau ikut campur, gerutunya dalam hati. Wanita dan si brewok yang dipanggil Siska dan Parno itu hanya diam, seakan merasa segan terhadap petani itu. Namun petani tua itu dapat menduga, tentu ada orang jahat baru yang datang, sampai membuat suasana hiruk pikuk.

“Anak muda, tempatmu di ujung sana, tak lama lagi kau akan dipanggil, bersiaplah dan jangan menganggu ketenangan orang lain. Selamat datang di alam barzah.” Petani itu menunjuk pada dinding sempit berbentuk segi empat di belakangnya.

“Barzah, alam barzah!” kepala lelaki itu mendongak, seluruh urat syarafnya menegang.

“Alam kubur. Berarti aku sudah mati. Mati! oh, tidak. Tak mungkin. Kau bohong Pak Tua. Mati, oh tidak…” lelaki itu menjerit, dan bergerak ke sana ke mari. Diperhatikannya sekelilingnya, “Aih…” ada beberapa gundukan di sana sini.

“Aku mati, tak mungkin. Astri! Dimana kamu! Rika, dedy… ke sini, Nak. Papa rindu, Nak.” Bagai orang kesurupan, ia berteriak dan berlari tak tentu arah.

^^^^^^^^^

“La haula wala quwwata illa billah. Tenanglah anak muda, semuanya telah berlalu, hadapi kenyataan, kau telah berada di alam baka. Siapa namamu, Nak?” seorang tua berjubah putih dengan kepala disorban menghampirinya. Di sampingnya, bergelayut manja seorang bocak kecil berumur delapan tahun. Sesaat ia menatap orang tua itu. Dia terkejut, kenapa seluruh nadinya berdesir, seluruh syaraf perasaannya terpaku pada tatapan lembut mata itu. Tiba-tiba, segenap perasaan heran itu luluh dengan ketakjuban dan rasa damai bertemu dengan orang tua ini.

“Siapa namamu, anak muda?” Pak tua itu mengulangi kembali sapaan lembutnya. Tangannya menghampiri lelaki itu membantunya bangkit berdiri. Ah, sekali lagi lelaki itu terkesima, wajah teduh itu begitu menghipnotisnya, bibirnya tak henti-hentinya bergumam lirih menyebut nama Tuhan. Tentu dia seorang alim ulama. Seorang suci, pikirnya.

“Saya Hendrawan Prasetya, kyai!”

“Kenapa kau bisa datang ke sini, Nak Hendra?” Seperti orang linglung, ia mencerna pertanyaan kyai itu. Yah, kenapa dia bisa di sini.

“Aku… aku tak ingat kyai, yang kutahu, malam itu hujan lebat, aku mengendarai mobil mercyku, waktu itu aku sedang mabuk berat karena sedih dan kecewa, dan aku menabrak pohon besar di tepi jalan terus… mobilku terguling setelah itu aku tak ingat lagi, kyai. Oh, Astriku… Astriku sayang. Mengapa kau tega melakukan itu. Mengapa? Dina… Jhonny, papa rindu, Nak. Kyai, benarkah aku telah mati?” sesenggukkan ia menangis, kemudian ia jatuh berlutut, mendekap mukanya.

“Aku telah mati. Oh, tuhan, tak mungkin. Aku masih belum siap. Aku… aku penuh dosa. Tak mungkin aku mati secepat ini.” Tangisnya memuncak, suaranya memilukan setiap orang. Parno, Siska dan petani itu juga ikut terkesima. Ketika pertama kali ke sini, mereka juga begitu. Meraung-raung seolah tak percaya, bahwa mereka telah meninggalkan dunia fana.

“Sepertinya hidupmu jarang mengingat Tuhan dan terlalu sering melalaikan perintah-Nya,” kyai itu berujar.

“Anak muda, kini tiada apapun yang bisa menyelamatkanmu, tiada suatu apapun yang bisa menolongmu kecuali tiga perkara; Yang pertama, apakah selama ini kau melakukan amal jariyah. Menginfakkan hartamu di jalan Allah?” Lelaki itu terpekur di tempatnya. Seperti bicara pada dirinya ia bergumam.

“shadaqah jariyah? Aku memang sering membangun gedung bertingkat, pusat perbelanjaan, dan mengepalai proyek-proyek besar buat kepentingan orang banyak. Tapi itu semua kudapati dengan cara kotor, dengan curang aku mengalahkan saingan bisnisku. Dan saat itu, yang ada dibenakku hanya uang dan bisnis. Tapi aku pernah membangun musholla di lingkunganku, ah… itupun kulakukan untuk cari nama. Supaya aku dibilang orang shaleh dan orang-orang akan menganggapku sebagai orang kaya dermawan. Padahal aku sadar, kalau harta itu tidak bersih. Berapalah harga sebuah musholla bila dibandingkan dengan harta kotorku selama ini.”

“Harta yang haram tidak dapat dipakai buat ibadah. Malah akan menambah dosa baru. Anak muda, yang kedua, adalah ilmu yang bermanfaat. Apakah selama ini, engkau mengajarkan ilmumu kepada orang lain, hingga orang itu akan menyebarkannya dan selama ilmu itu terus berguna maka selama itu pulalah pahalamu akan mengalir, walau kau sudah berada di sini.”

“Ilmu, kyai? Ilmu yang bagaimana yang kyai maksudkan. Kalau ilmu dunia, mungkin aku tahu banyak. Ah… aku memang tidak adil. Ketika hidup, ilmu-ilmu akhirat, aku anggap kuno dan kampungan. Setiap ada pengajian di musholla aku selalu menghindar, ketika seseorang bercerita tentang agama, aku selalu mencemooh. Waktu itu kupikir, Tuhan tidak berhak mencampuri kebebasan manusia, Tuhan tidak boleh mengatur terlalu banyak urusan manusia. Selagi hidup, kerjakanlah sesukamu, mati adalah urusan nanti.”

“Terlalu takabbur, anak muda. Kini yang terakhir, apakah kau mempunyai anak shaleh yang senantiasa mendo’akanmu, walau kau telah tiada?”

“Anak-anakku. Lelaki itu memejamkan matanya, meresapi kerinduannya pada anak-anaknya. Kemudian ia tersenyum pahit, mata sayunya memandang lurus ke depan. Anak shaleh? Si sulung Jhonny, kerjanya hanya ngedrug, keluyuran dan jarang pulang ke rumah. Setiap pulang selalu marah-marah dan dalam keadaan mabuk berat. Si Dina malah membuatku murka, akibat hamil di luar nikah. Dedy sama saja, anak itu selalu gonta ganti pacarnya. Dan selalu merengek-rengek minta uang. Si bungsu Rika yang kuharapkan, malah paling berani membantah dan melawan kepadaku. Mereka semua tak bisa diharapkan. Aku benar-benar malu dan kecewa. Tapi walau bagaimanapun aku sangat sayang pada mereka.”

^^^^^^^^^

“Tuan, apakah tuan benar-benar tidak mempunyai anak yang selalu mendo’akanmu?” Anak kecil yang sedari tadi berdiri di samping kyai itu bersuara. Matanya menatap kasihan pada lelaki itu. Sesaat lelaki itu berpikir sejenak lalu berkata,

“Dulu, lantaran aku kecewa pada anak-anaku, aku pernah mengadopsi seorang anak yatim, kemudian ia kumasukkan ke pondok pesantren. Tapi selama dia di sana, aku tak pernah menjenguknya, karena aku terlalu sibuk.

“Itulah dia mutiaramu, tuan.” Bocah itu tersenyum menghampirinya.

“Dialah yang akan mendo’akanmu, dialah yang akan selalu bersujud panjang dan melantunkan do’a pengampunan untukmu, tuan.” Mata lelaki itu berbinar,

“Benarkah itu, Nak?” dipeluknya bocah itu erat-erat sebagai refleksi dari kegirangannya.

“Siapa namamu, Nak dan mengapa kau sampai di sini?”

“Namanya Arman, dia seorang penjual kue di jalanan. Dia ke sini karena korban tabrak lari,” kali ini si brewok itu menjawab.

“Kau sendiri, bagaimana bisa ke mari?” tanya lelaki itu pada si brewok.

“Dia seorang perampok kejam. Untuk merampok tak segan-segan ia membunuh korbannya. Dia ke sini disebabkan mati tertembak oleh polisi.” Wanita hamil itu ikut bicara.

“Sementara aku adalah seorang pelacur, selama hidup aku selalu melampiaskan nafsuku dengan kaum pria. Hingga aku mengandung, kemudian aku mati karena aborsiku gagal,” lanjutnya kemudian sembari tangannya mengusap perutnya.

“Aku adalah seorang petani miskin, karena kemiskinanku aku terbelit hutang, aku selalu dikejar-kejar orang karena hutang. Tak tahan itu semua, aku menggantung diri di bawah pohon belakang rumahku. Ah, kemiskinan telah membuatku kufur kepada Tuhan. Anak muda, tadi kau berteriak-teriak memanggil seseorang, siapakah dia?” Petani itu bertanya.

“Oh, dia… si Astri itu. Keparat, kubunuh dia, istri terkutuk. Malam itu dia selingkuh dengan sopirku. Aku memergokinya ketika pulang kerja. Keparat!” Seketika lelaki menghentakkan kakinya, tangannya terkepal, sinar matanya begitu menakutkan.

“Astaghfirullah… sungguh malang nasibmu anak muda, bahkan hingga saat ini pun kau masih menyimpan bara dan menebar dendam. Segala sesuatu ada sebab akibatnya. Manusia selalu memandang akibat dan kurang mencerna sebab. Istrimu begitu, tentu ada sebabnya. Mungkin selama ini kau selalu mengejar kesenangan duniawi, menumpuk harta dan melakukan apa saja yang kau suka. Istri dan anak-anakmu terlantarkan. Rumahmu mungkin telah menjelma menjadi neraka. Kau telah menyia-nyiakan amanat Allah. Anak-anakmu yang seharusnya menjadi penyebar rahmat di muka bumi, malah kini mereka hanya akan menambah daftar dosa-dosamu,” kyai itu menasehatinya lembut. Sinar mata lelaki itu kini redup lagi, wajahnya tertunduk.

Tak selang berapa lama, tangisnya kembali terdengar. Namun kali ini sungguh pilu dan menyayat hati. Tak perduli akan sekelilingnya, dia duduk bersimpuh, menengadahkan tangannya tinggi-tinggi. Pelan dia berdo’a. Sesenggukkan tangisnya mengiringi desahan do’anya. Matanya menatap ke atas. Seakan memohon pengampunan. Dari mulutnya, terdengar lirih nama Tuhannya disebut-sebut, pelan sekali dan nyaris tak terdengar. Dia terus berdo’a dan menyatukan sukma dan raganya pada satu zat dan tujuan. Ilahi rabbi….Lama sekali. Kini mata itu terus terpejam, namun air mata itu terus mengalir. Begitu syahdu…

^^^^^^^^^

“Oh tidak! Tiba saatnya. Tidak! Jangaaaan!!!” Bersamaan teriakan si brewok, petani dan pelacur itu. Mereka sangat ketakutan. Sungguh mengerikan pemandangan itu. Si petani berlari ketakutan, namun tangannya terus mencekik lehernya. Sementara si brewok terus membacok perutnya dengan golok yang di tangannya. Darahnya bermuncratan ke mukanya. Sedang si pelacur itu, merangkak tertatih-tatih, ketika tangannya memasukkan besi panas membara ke liang kemaluannya. Lelaki itu terus memejamkan matanya seakan tak terpengaruh sekelilingnya. Namun akhirnya ia tak tahan juga. Suara-suara itu begitu memekakkan telinga dan sangat menganggu konsentrasinya. Semuanya serba hiruk pikuk. Dia merasa selain manusia-manusia tadi, ada banyak makhluk di sana. Begitu aneh dan menyeramkan. Suara-suara yang belum pernah ia dengar. Telinganya tak sanggup lagi bertahan. Perlahan ia buka matanya. Laksana jutaan semut menggigitnya tiba-tiba, tubuhnya menggigil dan ketakutan. Di sebelah kirinya, ribuan binatang melata, mulai dari ular, cacing, kecoa dan kalajengking berbagai bentuk tengah menggeranyangi tubuh-tubuh mereka. Ada yang melilitnya, ada yang menggigitnya, ada yang memasuki mulut dan keluar melalui telinga. Raungan dan jeritan kesakitan sungguh memekakkan telinga. Di sebelah kanannya, kyai dan bocah itu berjalan perlahan memasuki sebuah gedung yang teramat megah. Belum pernah dia melihat gedung seindah itu. Taman-taman sekelilingnya begitu asri dan menyejukkan.

^^^^^^^^^

“Oh tidak!” kini seekor ular yang paling besar menatapnya. Memperlihatkan giginya yang taring. Ular itu sangat besar bagaikan naga yang ia dengar dari dongeng-dongeng. Ular itu menjulurkan lidah yang panjang siap memangsanya. Di belakangnya ratusan kalajengking mengikuti ular itu berjalan ke arahnya. suara binatang itu mendesis, sungguh menakutkan.

“Jangan. Tolong…. Tidak!!! Ampun. Tidak!!!!” Dia berlari mengerahkan seluruh kekuatannya. Sesekali ia terjatuh, namun segera bangkit lagi. Ular dan kalajengking itu terus mengejarnya. Gemuruh suara desis mereka mengalahkan teriakannya. Beberapa ekor kalajengking, cacing dan ular-ular kecil telah hinggap di pakaiannya, di antara mereka telah mulai menggigitnya. Darahnya mulai berkucuran di sana-sini. Akhirnya dia jatuh terlentang.

“Ampun, ampuun….!” suaranya mulai lemah, dia benar-benar tak berdaya. Rasa perih dan sakitnya sudah memuncak.

“Oh, Tuhaan, ampuuunn…. jangan!!!” kini naga itu membuka mulutya lebar-lebar. Taring-taringnya siap melahapnya.

“Tidaak!!! Ampuun…. “

^^^^^^^^^

“Tidaak!!! Ampun…”

“Dokter! Cepat…. Dia sudah sadar.”

“Alhamdulillah, saudara sudah sadar. Setelah kecelakaan itu, Anda berada dalam keadaan koma tiga hari. Setelah dioperasi, kaki Pak Hendra terpaksa harus diamputasi,” dokter di sampingnya menjelaskan padanya.

“Pa… mama minta maaf, Pa. Mama salah, Pa.”

“Pa… jangan tinggalkan kami, Pa.”

“Pa… kami semua mau berubah, Pa…,” suara istri dan anak-anaknya meratap di sebelah kirinya Ruangan itu dipenuhi isak tangis. Lelaki itu melihat sekelilingnya. Istri dan anak-anaknya menatap padanya dengan air mata. Sekilas ia mendongak ke atas. Di lihatnya samar-samar kyai dan bocah itu tersenyum padanya. Di sudut ruangan putih itu, ia mendengar lantunan Al-Qur’an dikumandangkan anak yatim yang diadopsinya.

Wa yasaluunaka ‘anirruh qulirruhu min amri rabbii wamaa uutiitum minal ‘ilmi illa qoliilaa. (QS 17:85)

Cairo, 7 mei 2003
Cerpen ini dikirim oleh seorang teman via e-mail. Ceritanya bagus sehingga saya ingin membaginya dengan teman-teman pembaca Kafemuslimah. Sayangnya saya sendiri tidak tahu siapa penulis cerpen bagus ini, karena satu-satunya keterangan yang saya peroleh hanyalah bahwa cerpen ini berasal dari Teman yang ada di Cairo, Mesir. Jadi, siapapun penulis cerpen ini, saya ucapkan terima kasih. Semoga cerita yang kamu buat ini bisa membawa ibrah (hikmah pelajaran) buat teman-teman yang membacanya dan menjadi pahala ibadah bagi dakwah yang kamu siarkan. Aamiin.

ade anita (adeanita_26@yahoo.com.au)

Jangan Lupa Komentarnya Yaa :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s