Ngenet

 

Mengawali suatu pekerjaan memang terasa sulit untuk yang belum terbiasa. Apalagi harus mencari pelanggan. Dari persaingan sesama pedagang kecil sampai pedagang dari pabrik besar. Di Jakarta memang menumpuk segala macam aktifitas dari jualan, pekerjaan, perkantoran, atase kedutaan, dan lembaga pendidikan, semua ada. Bahkan sampai kolong-kolong jembatan.

Di kampung sesuatu yang tidak dibisniskan tapi di Jakarta ini semua laku dijual. Bahkan untuk sekedar buang air kecil atau air besar dikenakan biaya, apalagi di tempat-tempat wisata. Jakarta memang kota metropolitan yang tidak bisa sepi. Selalu padat jadwal. Hampir 24 jam kesibukan selalu hadir. Dalam sepak bola nasional mereka memiliki klub tangguh yang di dukung oleh ribuan The Jack Mania, pengawal Persija Jakarta Pusat. Maka kompletlah gemerlapnya Jakarta.

Tapi Arif bersyukur pada pekerjaan tidak untuk bersalesman. Bukan apa-apa, ia merasa tidak bisa menguasai bahasa bicara cepat untuk promosi, itu saja. Padahal menurut kisah orang-orang sukses dengan sales yang baik maka pendapatan lebih baik lagi. Karena bisa saja strategi yang baik memberikan kontribusi pendapatan yang besar. Melebihi gaji orang kantoran.

Arif menerima dengan senang ketika temannya yang pemilik warung internet atau warnet memberikan pekerjaan sebagai penjaganya. Senang walau dengan honor pas-pasan. Baginya akan lebih senang jika sampai bisa setiap hari berkecimpung dengan komputer. Dimana komputer masih sangat langka di kampung halamannya. Dengan modal pengetahuan komputer di SMU yang belum komplit tentunya suatu keberuntungan jika sampai jago komputer kelak. Dan ke arah situ bukan suatu hal mustahil. Bahkan cita-cita untuk bisa kuliah belum pupus diharapannya.

Untuk awalnya memang ia masih canggung untuk ngenet. Tapi setelah beberapa bulan kerja ia sudah bisa mengerti dan mengoperasikan internet plus program komputer microsoft office lainnya.

“Mas tolong dong dibuatkan email.”

Dengan senyum sebagai pelayan yang baik, Arif segera memberikan bantuan. Ia memaklumi pada pelanggan baru ini. Mungkin pertama kali ngenet.

“Mau bikin email di situs apa Mbak?”

“Di alhikmah.com atau ukhuwah.or.id aja.”

“Kenapa tidak di yahoo?”

“Tidak ah, aku mau coba ikutan ngeboikot.”

Dengan segera Arif membukakan situs yang dimaksud. Ia persilahkan kembali pada pelanggannya untuk mengisi biodata.

“Terima kasih Mas.”

Arif anggukkan kepala.

*****

“Anto katanya kamu besok mau ngenet, buruan mumpung lagi ada diskon.” Arif promosi pada Anto teman sekostnya.

“Titip aja deh, tolong bukain, nih loginnya!”

“Dee gimana seh, nanti kalau ada kiriman rahasia nanti kebaca lagi.”

“Ngak apa-apa, email ini kan hanya untuk bisnis. Setengah jam masih seribu kan?”

“Masih, oh ya tadi Zulfikar telepon, katanya pesen minyak wangi melati.”

“Thanks.”

Arif menengok ke arah jam dinding. Baru angka enam lebih tiga puluh. Ia jaga pas jam tujuh. Dengan cekatan ia mengambil kemeja birunya untuk disetrika. Sudah biasa bila mau menyetrika harus antri, bukan hanya mandi saja. Maklum satu kamar kost itu dihuni oleh tujuh orang. Bisa dibayangkan.

Jam tujuh kurang lima menit Arif sudah ada di ruangan jaga warnet. Tidak berapa lama datanglah seorang pelanggan yang mau ngenet. Arif menyambut dengan ramah. Ia kembali ke meja jaganya.

Arif mengambil sebuah majalah yang tergolek di dekat deretan buku. Ia segera membaca buku Segenggam Gumam karya Helvy Tiana Rosa. Buku yang berisi tentang kesusasteraan Islam. Sebenarnya kemarin ia ingin membaca, namun tidak sempat karena sibuk melayani pelanggan. Ia memang hobi membuat cerpen, tapi belum tahu detil cara-cara kaidah membuat cerpen atau cerita lainnya yang baik dan benar sesuai aturan. Namun baru sesaat baca ia tunda lagi karena ada pelanggan baru mau ngenet.

Seorang gadis cantik berjilbab lebar kini sudah duduk di deretan pojok warnet setelah ditunjukkan oleh Arif. Ruangan warnet memang cukup luas ada 15 set komputer dibagi dalam 2 ruangan. Namun tidak sama besar ruangannya. 10 set komputer untuk ngenet laki-laki. Dan ruangan lebih kecil dengan 5 set komputer untuk ngenet wanita. Maka memang sesuai keingin pemilik bahwa harus ada pemisah ruangan antara laki-laki dan wanita.

*****

Tanggal 23 Desember 2003. Dipenghujung tahun ini Arif mendapat kiriman email dari Yana mengenai bahasan yang sebenarnya sudah jelas dan banyak dalil-dalil untuk mengharamkannya.

“Assalamualaikum Wr WB…Temen2 tolong donk….Gini, bos gue yang orang bule, nasrani, nyuruh gue bikin undangan open house natal dirumahnya tgl 25 besok, gimana nih, gue bikinin, apa tolak perintahnya, tolong ya… sudah ditungguin sampe ntar sore nih…jazakallah ya..Wass, Yana.” Itulah kalimat pertanyaan di milis.

Ia tersenyum simpul lalu mulai mengetik memberikan jawaban atas pertanyaan Yana, sahabat milis di media dakwah.

”Assalamu’alaikum wr wb. Yana, saudaraku yang baik kamu harus sabar pertama2 dan memberikan pengertian pada bosmu itu. Bahwa sesuai Ajaran Islam, kita dilarang untuk ikut campur termasuk yang hal2 kecilpun, apalagi untuk acara natal, apalagi ini untuk bikin undangan open house. Percayalah kemurnian Aqidah lebih utama dari pada kesenangan dunia yang sesaat ini. Jadi jangan takut di PHK andai kamu menolak, rizki Allah masih luas lagi. Kamu beri saran pada bosmu agar memberikan tugas itu sama orang yang beragama seperti mereka (Nasrani). Jangan sampai anda terima dengan alasan apapun, tidak ada pintu darurat di sini karena Nabi memberi contoh kita, ketika Nabi SAW ditawarkan untuk mengikuti ibadah kaum Musryikin Makkah selama setahun, dan setelah itu mereka mengikuti ibadah Islam selam setahun berikutnya, Nabi SAW menolak.

Allah berfirman dengan Al Qur’an Surat al-Kafirun ayat 1 sampai 6. Mengucapkan selamat Hari Raya Natal atau agama2 lainnnya baik langsung, via telepon, sms, spanduk, atau sarana lainnya hukumnya HARAM. Ini salah satu kemungkaran. Karena itu termasuk bagian ibadah orang2 Kristen (kembali renungi QS al-Kafirun; 1-6).

Toleransi bukan berarti ikut ajaran agama lain. Makanya Nabi saw jauh2 sudah memperingatkan jauh2 tantang bahaya ikut tradisi dan kebiasaan agama lain. Sabda Beliau : ‘Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dalam golongan mereka,’ (HR Abu Daud).

Abu Sa’id Al Khudri meriwayatkan Rasulullah saw bersabda,’ Kalian akan amengikuti sunnah2 (tradisi) orang2 sebelum kamu, sehasta demi sehasta, sedepa demi sedepa, bahkan walupun mereka masuk ke lubang biawak, kalian pasti mengikuti mereka. ‘Para sahabat bertanya,’ (Yang dimaskud) adalah Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah menjawab.’ Siapa lagi?’ (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Ibnu Madjah).

Adalah tugas kita untuk memperingatkan keluarga, teman2 lain dan muslimin bahwa hukum ini sudah jelas. Termasuk Valenitne Day, sama saja HARAM. Mudah2an bos mu mendapatkan hidayah dari Allah swt setelah kamu beri pengertian arti ajaran Islam yang tak boleh diaduk dengan tradisi agama lain. Wallahu’alam bisshowwab.”

Dengan ucapan bismillah Arif memencet tombol send untuk mengirim email yang berisi jawaban namun dengan tulisan yang santai agar lebih komunikatif.

****

“Kayaknya kita ikut acara tutup tahun 2003 dimana nih?”

“Dari tanggal 24 sampai 31 Desember libur habis, plus dua hari di bulan Januari 2004. mumpung cuti lagi banyak nih!”

“Lama amat?”

“Bukan begitu To. Pulang ke Pekalongan, kan sekalian belanja pakaian buat di dagangain di sini. Soalnya lagi banyak pesananan motif nih!”

“Iya deh, sukses buat kamu Dim.”

“Ngomong di Mesjid At-Tin bukannya ada MABIT?” Tanya Anto pada Dimas dan Arif.

“Malam Bina Iman dan Taqwa di sana udah lewat, kan adanya tanggal 20-21 Desember. Baru kemarin.”

“Astagfirullah lupa ya? Padahal udah niatan banget mo ngikutin acaranya.”

“Bener nih mau ngikutin acara?” Arif menatap tajam Anto. Dilihatnya Anto anggukan kepala. “Di Mesjid Al-Ittihaad Tebet kan ngadain, besok 27-28 Desember.”

“Insya Allah yang bener-bener deh.”

“Kita percaya kok. Ngapain nambahin embel-embel dibelakang jika Allah mengizinkan.”

“Artinya itu serius banget!!”

Arif dan Dimas hanya bisa nyengir.

****

Di malam yang sepi. Jam menunjukkan angka tiga lebih lima menit. Sejenak ia memandangi halaman Mesjid Al Hikmah. Sholat Tahjud kali ini Arif menyelesaikan sebelas rokaat. Sambil istirahat menunggu sholat subuh tiba Arif membaca 5 Before 5 dari Bianglala Annida edisi Nomor 08/16 Januari 2002, yang ia bawa. Meskipun sudah setahun tapi majalah itu masih kelihatan bagus karena memang Arif telaten merawatnya.

Mari renungkan beberapa butir pertanyaan berikut: Apa yang sudah kamu lakukan di tahun-tahun sebelumnya? Bagaimana perasaan kamu? Seperti apakah kamu pada saat itu? Apakah kamu akan meneruskan pendidikan sampai perguruan tinggi? Bagaimana sikap kamu terhadap hidup ini? Teman seperti apa yang kamu sukai? Apakah kamu akan bergabung dengan gang? Apakah kamu akan pacaran dulu sebelum menikah? Apakah kamu akan melakukan hubungan seks terlebih dahulu sebelum menikah? Apakah kamu akan meminum bir, merokok, dan menghisap narkoba? Nilai mana yang akan kita anut? Apakah kamu akan memilih Islam sebagai pedoman hidupmu atau yang lainnya? Hubungan seperti apa yang kamu inginkan dengan orang tuamu? Siapakah yang akan kamu bela? Apakah yang kamu bisa lakukan untuk agamamu, bangsamu dan negerimu? Apa sebenarnya yang kamu inginkan dari hidup ini? Dibacanya ulasan dari Ibu Ery Soekresno, Spi. Itu dengan mengupas keterangan setelah kalimat-kalimat tersebut dengan penuh penghayatan.

Arif menutup mukanya dengan dua telapak tangannya. Hanya kalimat istighfar yang ia baca. Betapa semua pertanyaan dari tulisan Bu Ery itu sangat menyentuh perasaannya. Mengingatkan kembali hidup masa lalu nya yang nyaris ditelanjangi dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Sungguh degradasi iman hampir membuatnya buta hati akan kebenaran. Ia bersyukur pada seorang sahabat yang senantiasa mengingatkannya, walau pernah ia caci maki.

Satu tekad, sisa hidup harus ada artinya mulai sekarang. Maka keesok harinya disela-sela jaga warnet ia bermilis ria dengan kutipan-kutipan dakwahnya. Sang pemilik warnet memang memberikan fasilitas pda pegawainya 1 komputer untuk lebih memfamiliarkan dan agar tidak ketinggalan informasi aktual di internet. Yang penting sampai tidak melupakan tugas utamanya sebagai penjaga warnet.

Salamku tuk semua sahabatku di Al Kahfi Kost-Bangka, Jakarta

Mustofa Sarbini (mustofa@ikpt.com)

Jangan Lupa Komentarnya Yaa :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s