Seharusnya Aku Bilang STOP

 

Aku memandang kesepuluh jemari tanganku. Sudah berapa lama sebenarnya aku menetap di Jakarta setelah aku menikah? Jika satu buah jari mewakili satu tahun, maka keberadaanku di Jakarta ini belumlah mencapai sepuluh tahun. Mungkin baru… 6…7…Yup. Baru delapan tahun aku tinggal di Jakarta setelah aku menikah. Eh… mungkin ada pertanyaan dari para pembaca sekalian, memangnya aku dahulu tinggal dimana? Jawabnya yah di Jakarta juga. Sejak lahir aku tinggal di Jakarta, besar di Jakarta, Sekolah di Jakarta dan bertemu jodohpun di Jakarta. Tapi entah kemana saja aku selama ini, setelah menikah dan tinggal di kota yang sama, mengapa Jakarta kini menjadi sedemikian asing bagiku?

Dahulu aku aktifis kampus. Pergi pagi pulang petang karena begitu banyaknya kegiatan yang harus aku ikuti setiap harinya. Seabreg kegiatan itu sudah aku jalani bahkan sejak aku masih duduk di bangku SMP. Aku memang termasuk orang yang tidak bisa duduk diam saja menunggu sesuatu terjadi dengan sendirinya. Tanganku gatal jika tidak mengerjakan sesuatu dan kakiku pegal-pegal jika tidak melangkah ke banyak tempat. Kepala ini rasanya menjadi mengecil dan mengeras jika tidak ada informasi yang berkelebat keluar masuk ke dalam kepalaku. Aku memang orang yang senang membaca, senang menulis dan juga senang bicara. Wah. Borongan yah. Tapi bisa jadi karena semua kesenangan ini maka beberapa jabatan yang lumayan vital diamanahkan ke tanganku. Alhamdulillah. Tapi karena seabreg kegiatan tersebut, ditambah segala fasilitas kemudahan yang aku peroleh ketika menyandang status “anak”, aku menjadi jarang sekali tergerak untuk mengetahui apa yang terjadi di seputar rumahku, sekeliling tetanggaku dan lebih jauh lagi, apa yang sebenarnya terjadi di lingkungan kota tempat tinggalku, Jakarta.

Semua terasa baru ketika setelah menikah suamiku meminta aku untuk berdiam di rumah guna mengurus rumah tangga dan menjaga anak-anak. Mungkin bisa dikatakan inilah awal mula kehidupanku yang sesungguhnya. Tahun pertama perkawinan yang ramai dengan tangis dan tawa bayi yang aku lahirkan, membuat aku belum terpikir untuk melongok keluar rumah. Paling banter aku bertemu para tetangga ketika kami sama-sama membeli sayur di pasar atau warung, atau ketika ada acara kerja bakti antar warga. Itupun biasanya dengan sebuah ketergesaan. Khawatir bayiku menangis kepanasan karena terik matahari atau terhirup debu-debu jalanan yang luar biasa serbuannya yang tiada henti itu.

Dua tiga tahun berlalu tanpa terasa. Kini anak-anak sudah mulai beranjak besar. Tak ada lagi waktu siaga 24 Jam yang harus aku berlakukan dalam menjaga dan mengasuh mereka. Pagi anak-anak berangkat sekolah dan suamipun berangkat ke kantor. Membereskan rumah kami yang mungil mungkin hanya memakan waktu satu atau dua jam saja. Akhirnya mulailah waktu luang yang cukup banyak datang menghampiri. Tak ada yang dikerjakan. Tak ada kegiatan. Tak ada kesibukan yang cukup berarti. Inilah saatnya untukku mulai melihat ke dunia di luar rumah. Aku baru menyadari bahwa ternyata, setelah lewat separuh umur hidupku dihabiskan di kota Jakarta, aku lupa untuk sejenak saja melihat keadaan kota ini dalam kesehariannya. Dengan ketetapan hati untuk mulai memperhatikan lingkungan, aku pun mulai melangkahkan kaki keluar dari sarang yang paling aman, keluar rumah. Dimulai dengan menghadiri kegiatan arisan RT.

“Wah, ibu-ibu. Ini ada anggota arisan kita yang baru. Kebetulan karena ini bukaan baru jadi beliau aku masukkan menjadi anggota arisan yang baru.” Aku tersipu-sipu ketika Bu Ramdan yang mengkoordinasikan penyelenggaraan arisan mulai memperkenalkan diriku di hadapan sekitar 50-an orang ibu-ibu peserta arisan. Wah, subhanallah. Banyak juga ternyata tetangga-tetanggaku jika sudah dikumpulkan. Mereka terdiri dari berbagai kalangan. Tanpa terasa, aku otomatis membagi mereka dalam beberapa kelompok. Ada kelompok kelas menengah ke bawah ada yang kelas menengah ke atas. Semua pengelompokan ini otomatis aku lakukan hanya berdasarkan dari melihat cara mereka berpakaian dan berbicara (ah, tolol dan sok tahunya aku; itu baru aku sadari setelah sampai di rumah. Semoga Allah memaafkan sifat sok tahuku ini, aamiin).

Dari acara arisan, secara perlahan tapi pasti aku mulai mencoba melebur dalam masyarakat di sekelilingku. Jika semula seharian aku berada di rumah, kini di siang hari, selesai shalat dzuhur, aku mencoba untuk berjalan ke luar ke arah kerumunan ibu-ibu yang sedang bergerombol menyaksikan anak-anak mereka bermain di tengah jalan. Kebanyakan anak-anak mereka bermain sepeda atau petak lari. Kebetulan anak-anakku juga berada di antara anak-anak mereka. Maka aku mulai menghampiri gerombolan ibu-ibu itu. Dari awal, aku tidak tahu harus berbicara apa. Aku bukan seorang yang supel dan luwes dalam bergaul. Aku termasuk tipe pendiam dan sedikit pemalu tapi tidak bodoh (setidaknya ini yang aku yakini untuk memompa diriku agar tidak minder di hadapan orang lain). Jadi, keberadaanku di antara para ibu-ibu tetanggaku kebanyakan hanyalah sebagai seorang pendengar yang baik. Paling beberapa kali celetukanku keluar jika kami sama-sama memberi komentar terhadap perilaku anak-anak kami yang memang terkadang memancing tawa dan komentar.

Lalu satu dua orang mulai mengajakku untuk mampir ke rumahnya. Mulai dari mencoba resep masakan, sampai rencana untuk melakukan senam aerobik bersama dengan menggunakan video CD senam. Suamiku hanya tersenyum saja jika malam hari aku bercerita padanya apa yang telah aku lakukan dengan para tetanggaku itu. Kian lama, ada sebuah keasyikan tersendiri juga ternyata bergaul dengan para tetangga. Kini, waktu yang diperlukan dalam perjalanan menuju ke pasar atau dokter bisa lebih lama dari dahulu. Jaraknya tidak berubah, tapi karena hampir di sepanjang jalan banyak yang menyapa dan aku menyempatkan diri untuk menghampiri mereka yang menyapaku, jadilah waktu tempuh untuk jarak yang sama jadi lebih lama.

Hingga suatu hari seorang tetanggaku mengajak untuk menonton film dari VCD mereka. Judulnya, Ada Apa Dengan Cinta. Hihihi…. Kami yang sebenarnya sudah berusia hampir kepala empat ini jadi merasa seperti remaja lagi. Bergerombol di depan televisi sambil beberapa kali asyik memberi komentar terhadap beberapa adegan. Seorang ibu beberapa kali membandingkan pengalaman masa mudanya dengan adegan film tersebut. Tanpa dikomando kami beberapa kali pula seperti koor meledek beliau. Suasananya jadi seperti gerombolan remaja yang diam-diam menonton film di rumah orang tuanya ketika orang tua sedang tidak ada di rumah. Suamiku sendiri, yang tetap setia mendengar semua cerita tentang kegiataan sehari-hari, ikut tersenyum-senyum mendengar ceritaku.

“Film itu kan sudah beberapa kali diputar di TV?” Komentarnya.

“Iyah sih. Tapi nggak tahu tuh, kok rasanya lain yah waktu tadi kami menontonnya ramai-ramai di rumah Tina. Kami semua jadi merasa muda kembali. Entah mengapa.”

“OH. Itu mungkin karena kamu sudah terlalu lama berdiam di dalam rumah dan tidak pernah lagi bertemu orang-orang semenjak kamu menikah. Maafkan aku yah, sayang.” Suamiku meraih kepalaku dan mengacak-acak rambutku dengan mesra.

“Ah, aku ikhlas kok insya Allah.” Aku tak urung jadi merasa mukaku berwarna merah jambu menerima perlakuan suamiku. Ah, mengapa aku jadi ingat adegan Rangga yang mengacak-acak rambut Cinta di Film AADC yah? Duh, aku kan bukan remaja lagi. Dan wajahku terasa kian panas menahan malu yang tiba-tiba menyelinap.

Lalu di hari berikutnya, beberapa kali aku larut dalam pembicaraan ibu-ibu. Hingga tanpa terasa kami kini sudah membicarakan tentang isi tabloid infotaiment. Beberapa nama artis berkelebat hadir di tengah pembicaraaan kami. Mulai dari gosip siapa yang menikah, siapa yang bercerai, siapa yang berselingkuh hingga siapa yang melahirkan, semua hadir tanpa terasa. Lalu tanpa terasa juga, kami mulai membicarakan tentang fisik artis tersebut. Tentu saja ditambah dengan penilaian yang bersifat sangat subjektif dari masing-masing ibu-ibu yang terlibat pembicaraan tersebut. Aku mulai merasa suasana tidak enak. Jengah. Tapi tak tahu bagaimana harus menghindari jika sudah berada di tengah-tengah mereka. Kini, dari yang semula hanya menjadi pendengar yang baik sesekali aku mulai ikut memberi komentar dan celetukan kini kanan.

Pembicaraan mulai bergulir kian variatif. Beberapa ibu-ibu membawa beberapa dagangan dan mulai menawarkan transaksi penjualan dengan sistem kredit. Beberapa ibu-ibu lain mulai membawa beberapa film remaja lain yang memang sedang ngetrend di bioskop. Mulai dari Jelangkung, Andai Dia Tahu hingga Eiffel, I’m In Love.

“Wah. Kamu sudah seperti remaja saja deh. Masa nonton film-film seperti itu sih? “ Suamiku mulai keheranan.

“Iyah. Aku juga bingung. Tapi aku juga bingung gimana harus menolaknya. Entahlah. Terkadang duduk, ngumpul dengan mereka dan melakukan hal-hal yang sepele seperti itu kok malah bikin aku jadi lebih rileks yah Mas? Sama ini nih. Aku kadang juga merasa jadi semangat lagi deh, persis kayak waktu remaja dulu.”

“Hmm, mungkin karena kamu selama ini jenuh dan lelah dengan kegiatan yang monoton sehari-harinya. “

“Hmm… mungkin juga yah. “ Aku mengangguk tanda setuju.

“Yah sudah.Asal tidak membawa kamu ke arah melalaikan shalat, rumah dan anak-anak, pada prinsipnya aku membolehkan kamu kok bergaul dengan mereka. Tapi hati-hati yah, sayang. Jangan sampai kamu lengah dan tanpa terasa melakukan hal-hal yang sebenarnya sia-sia.” Sebuah kecupan ringan mendarat di keningku. Dan aku kembali merasakan pipiku bersemu merah karenanya. Ah. Entahlah. Kadang aku merasa bahwa aku terlalu terpengaruh dengan film-film yang aku tonton. Akibatnya, seringkali aku merasa bahwa jika sedang berduaan dengan suamiku, kami bukan lagi sepasang orang tua yang berusia kepala empat dan punya lima orang anak yang semuanya sudah tidak kecil lagi.

Aku sering merasa bahwa kami adalah sepasang remaja yang sedang berkasih-kasihan dan terlibat dalam percintaan yang romantis. Persis seperti adegan dalam film-film remaja yang aku tonton. Bedanya, kami lebih beruntung dari para remaja di film-film tersebut karena kami sudah menikah. Artinya, apapun yang kami lakukan dalam berkasih-kasihan, jika dilakukan dengan penuh keikhlasan dan rasa cinta satu sama lain, insya Allah mendatangkan pahala ibadah tersendiri.

Suatu hari Tika menarik tanganku.

“Ayo ikut ke rumahku. Ibu-ibu yang lain sudah berkumpul semua tuh. Ada film baru, nonton yuk.” Aku gelagapan, bingung harus memberi komentar apa.

“Film apa?”

“Film bule.”

“Film bule? Tumben. Apa? Lord Of The Ring? “ Aku bertanya sambil mengikuti langkah Tika.

“Lord apaan? Bukan. Judulnya Tarzan.” Tika menjawab sambil berjalan bergegas memasuki rumahnya. Sudah ada banyak ibu-ibu di sana. Mungkin sekitar 15 sampai 18 orang. Lumayan banyak. Aku mengambil posisi duduk di tengah mereka. Dekat dengan sepiring pisang dan tahu goreng.

“Sudah siap semua yah? Aku putar deh.” Tika langsung memutar VCD Playernya. Lalu muncullah tayangan perdana dari film pada umumnya. Tentang siapa pemainnya, siapa yang menjadi sponsornya, dan sebagainya. Aku mencomot satu buah pisang goreng. Masih hangat. Hup. Nyam nyam. Segigit pisang goreng masuk ke dalam mulutku. Enak dan manis, alhamdulillah.

“Eh, judulnya apa tadi?” Aku bertanya setelah kunyahan gigitan pisang goreng di mulutku mulai kosong di mulutku. Tak ada yang menjawab. Semua ibu-ibu terlihat asyik menonton adegan film. Aku menoleh kiri kanan. Ternyata hampir semua ibu-ibu pandangan matanya tak berkedip. Aku yang semula asyik dengan pisang goreng mulai melayangkan pandanganku ke layar televisi. Bertepatan dengan adegan sepasang pria dan wanita yang sedang membuka pakaianannya. Aku terpana tapi alhamdulillah segera sadar dan langsung menunduk.

“Masya Allah. Film apa ini?” Pisang goreng di tanganku tidak lagi terasa manis dan hangat. Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku. Sebaliknya pendengaranku mulai dihampiri suara desah seorang wanita. Ah. Apa-apaan ini. Aku meletakkan pisang goreng yang tiba-tiba terasa keras seperti batu dan pahit seperti pil kina. Tubuhku berputar membelakangi layar televisi.

“Aku tidak bisa nonton film ini. Aku ingin pulang saja.” Setengah meringis aku berkata. Duh, aku kan sudah berusia hampir kepala empat tapi mengapa berperilaku cengeng seperti anak kecil seperti ini. Hik..hik… aku mulai putus asa, jengah dan kian panik. Telingaku kian terasa panas dengan suara desah yang terdengar dari televisi.

“Tunggu dulu Bu. Tonton saja, ini penting loh bu. Buat kita-kita juga, tahu. Supaya pandai kita dalam melayani suami kita.” Seorang ibu-ibu mencoba membujukku. Tapi alas dudukku terasa kian panas hingga tak sanggup rasanya aku terus duduk di sana.

“Nggak bisa. Aku malu.” Kini air mataku mulai menitik keluar. Tak peduli lagi pada usia yang sudah hampir kepala empat, tak peduli lagi pada predikat seperti anak kecil, aku mulai terisak ingin pulang. Sementara suara desah wanita di belakang punggungku kian ramai terdengar juga suara-suara lain yang terdengar hingga mendirikan bulu kudukku. Beberapa ibu-ibu mulai membujukku agar tenang.

“Apa-apaan sih ibu ini. Sungguh kampungan sekali. Masa nonton film seperti ini saja menangis? Ibu kan sudah menikah, anak-anak juga sudah beranjak besar. Adegan seperti ini tentulah sudah biasa ibu hadapi. Mengapa mesti menangis. Aku kasih tahu yah Jeng, kita tuh sebagai ibu-ibu harus pinter-pinter cari ilmu untuk membahagiakan suami kita di ranjang. Coba, bagaimana jika suami tidak puas di ranjang lalu melirik wanita lain?” Seorang ibu menasehatiku.

“Iyah bu. Tenang saja. Sebentar lagi juga selesai kok. Kita semua kan bukan remaja lagi yang baru pertama kali mengalaminya. Tidak usah malu.” Seorang ibu yang lain ikut memberi komentar. Aku kian terisak. Tapi kakiku sudah terlalu lemas untuk bangkit berdiri dan pergi dari ruangan yang serba tertutup tersebut. Semua gordein memang ditutup agar anak-anak tidak melihat film yang kami tonton.

“Ah. Rese banget deh mamanya Desi ini. Kalau kamu pergi dari sini, film ini terpaksa harus dimatikan, padahal tanggung juga.”

“Ah, tidak usah dimatikan. Yang mau pergi yah pergi saja. Ya sudah kalau situ mau pergi pergi deh buru-buru, disini malah jadi berisik, ganggu konsentrasi orang lain saja.” Sebuah suara terdengar menghardikku. Aku tak tahan.

“Aku ingin pulang saja. Biarlah aku kampungan atau apa. Aku tidak ingin melihatnya.” Akhirnya keluar juga kekuatan untuk berontak. Aku beranjak berdiri lalu berjalan mendekati pintu. Tak ada yang peduli padaku. Semua asyik menonton film. Jarak dudukku dan pintu jadi terasa sangatlah jauh. Bahkan handle pintu itu jadi terasa berkilo meter letaknya. Aku kepanasan karena rasa jengah di diriku yang mulai membakar seluruh isi dadaku. Mataku mulai berkabut karena air mata yang tidak mau berhenti. Sakit sekali rasanya hati ini diperlakukan seperti orang terusir di ruangan itu. Dalam kesendirian dan perasaan jengah yang tidak mau pergi aku menggapai handle pintu.

“Bu Dewi, tolong kunci lagi pintu yang dibuka sama mamanya Desi.” Sebuah suara tampak memberi komando.

“Iyah, biar saja deh kalau dia memang mau pergi. Dia sendiri yang rugi, tidak dapat pengetahuan tambahan yang baru.” Sebuah suara lagi terdengar.

“Nanti kalau tiba-tiba suaminya beralih ke wanita lain karena merasa kurang puas di ranjang baru tahu rasa dia.”

Sebuah suara tandas terdengar di telingaku. Ah. Mengapa mereka yang selama ini terasa begitu akrab dan ramah tiba-tiba hari ini jadi terasa begitu kejam? Mengapa mereka yang semula bisa menghilangkan kejenuhan dengan keceriaan hari ini tampak begitu egois? Mengapa mereka yang semula aku sangka adalah tetangga-tetanggaku yang baik hari ini berubah menjadi segerombolan ibu-ibu yang tampak panik mempertahankan suaminya dengan berbagai cara dan tak sungkan mengusir aku yang tidak sepaham dengan mereka?

Aku tidak mengerti dan tidak berminat untuk mencari tahu alasannya. Mungkin memang aku kampungan. Bisa jadi aku memang seorang wanita yang sudah hampir beranjak tua dan sama sekali tertinggal dari perkembangan pengetahuan yang disebut dengan pengetahuan modern. Aku tidak peduli. Air mataku kembali menitik dan aku menghasutnya buru-buru.

Malamnya, dalam pelukan suami tercinta aku kembali menangis menceritakan perlakuan teman-teman baruku itu. Ah. Beginikah warna sesungguhnya dari penduduk Jakarta dalam keseharian? Aku tak tahu karena bisa jadi ini hanyalah warna sebagian saja dari penduduk Jakarta yang berjumlah jutaan ini. Setelah tumpah ruah air mataku dalam pelukan suamiku tercinta, dan suara angin yang menggoyangkan dedaunan di luar kamar terdengar samar-samar. Suamiku bertanya pelan-pelan dan hati-hati.

“Tadi, kenapa kamu menangis di hadapan mereka?” Tangan kekar suamiku mengelus rambutku pelan-pelan. Aku tengadahkan kepalaku menghadap wajahnya. Tampak rambut putih telah menghiasi sisi kepalanya kiri dan kanan. Beberapa rambut putih juga sudah tampak hadir meramaikan janggut di dagunya.

“Aku takut mas.” Pelan aku mengadu dan tanpa terasa sebutir air mata kembali hadir di ujung mataku. Tangan suamiku segera bergerak dan menghapus butiran pertama tersebut.

“Takut apa, sayang?” Aku tersenyum dan merebahkan kepalaku di dadanya. Bisa kudengar suara detak jantung suamiku yang bertalu-talu berirama dengan teratur. Sebutir lagi air mataku hadir di ujung mata dan kembali dengan sigap suamiku menghapusnya dengan hati-hati dan penuh rasa kasih.

“Takut apa, sayang?” Suaranya kembali terdengar. Kini dengan intonasi perlahan dan sangat hati-hati. Sarat dengan kehangatan dan kemesraan. Aku merasakan suara yang penuh dengan muatan cinta di dalam suaranya. Subhanallah, betapa aku mencintainya dan bersyukur karena kami adalah pasangan yang saling mencintai satu sama lain.

“Aku takut Allah murka melihat apa yang aku lakukan. Bukankah Allah Maha Menyaksikan segala perbuatan kita?” Air mataku kembali menitik dan aku segera menelungkupkan kepalaku di atas dada suamiku. Sungguh, perasaan takut tadi siang kini ternyata hadir lagi dengan sendirinya malam ini. Aku takut, karena seharusnya aku berani mengatakan STOP pada diriku sendiri mungkin sejak tanda-tanda pertama ajakan para tetanggaku ke arah kelengahan mulai aku rasakan. Tapi nyatanya aku malah larut. Ah. Mungkin aku memang seorang wanita yang lemah. Allahumma, ampunilah atas kelemahan yang aku miliki saat ini. Diam-diam dalam tundukku aku berdoa dalam hati.

———-
Maret 2004

Ade Anita (adeanita_26@yahoo.com.au)

Jangan Lupa Komentarnya Yaa :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s