Strategi Coping

1.      Pengertian

         Phinney dan Haas (2003) memberikan devinisi coping sebagai respon seseorang terhadap situasi khusus dimana pengalaman individu turut serta dalam mengambil sikap untuk menghindari situasi yang menyebabkan stres.

Sementara menurut Stone dan Neale (1994) coping adalah perilaku dan pikiran yang secara sadar digunakan untuk mengatasi atau mengontrol akibat yang ditimbulkan dari situasi yang menyebabkan stres atau strestor.

2.      Klasifikasi Coping

Menurut Santrock (1996) strategi penanganan stres (coping) digolongkan menjadi strategi mendekat (approach strategy) dan strategi menghindar (approach strategy) meliputi usaha kognitif untuk memahami penyebab stres (stresor) dan usaha untuk menghadapi masalah stres disebut dengan cara menghadapi penyebab stres (stresor) tersebut atau konsekuensi yang di timbulkannya secara langsung. Sementara strategi menghindar (avoidance strategy) meliputi usaha kognitif untuk menyangkal atau meminimalisir stresor dan usaha yang muncul dalam tingkah laku untuk menarik atau menghindar dari stresor.

Sementara menurut Aldwin dan Revenson (1997) Strategi Coping yang dapat dilakukan individu dalam menghadapi masalahnya adalah sebagai berikut:

  1. Kehati-hatian: individu berusaha memikirkan dan mempertimbangkan secara matang beberapa alternatif pemecahan yang sesuai dan dapat dilakukannya, meminta saran dan pendapat orang lain tentang masalah yang sedang dihadapinya, bersikap hati-hati sebelum memutuskan sesuatu atau tindakan serta mengevaluasi strategi pemecahan masalah yang pernah dilakukan.
  2. Tindakan instrumental, yakni meliputi beberapa tindakan yang ditujukan untuk menyelesaikan masalah secara langsung pada pokok permasalahannya serta menyusun rencana-rencana selanjutnya.
  3. Negosiasi, meliputi usaha yang ditunjukan kepada orang lain yang terlibat atau yang menjadi penyebab masalah yang sedang dihadapinya untuk ikut serta memikirkan atau menyelesaikan permasalahannya secara bersama-sama.

Banyak perluasan dan modifikasi dari dikotomi Coping tersebut, diantaranya dilakukan oleh Lazarus (dalam Santrock, 1996),dan  Cowney dan Downey (1991) yang membedakan strategi  Coping menjadi dua bentuk:

a. Perilaku Coping yang berorientasi pada masalah (Problem Focused Coping-PFC)

Adalah strategi kognitif dalam penenangan stres atau  Coping yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya.

Carver dkk., (1998) mengemukakan aspek-aspek perilaku Coping yang berorientasi pada masalah (Problem Focused Coping-PFC) yang digunakan oleh individu sebagai berikut:

  1. Perilaku aktif (aktive coping), merupakan proses yang dilakukan individu berupa pengambilan langkah-langkah aktif untuk mencoba menghilangkan, menghindari tekanan, memperbaiki pengaruh dampaknya. Metode ini melibatkan pengambilan tindakan secara langsung, dan mencoba untuk menyelesaikan masalah secara bijak.
  2. Perencanaan (planning), adalah merupakan langkah pemecahan masalah berupa perencanaan pengelolaan stres serta bagaimana cara yang tepat untuk mengatasinya. Perencanaan ini melibatkan strategi-strategi tindakan, memikirkan tidakan yang dilakukan dan menentukan cara penanganan terbaik untuk memecahkan masalah.
  3. Penundaan terhadap aktivitas lain yang saling bersaing (Suppresion of competing). Individu dapat menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas kompetitif atau menahan semua informasi yang bersifat kompetitif agar ia bisa berkonsentrasi penuh kepada masalah atau ancaman yang dihadapi.
  4. Pengekangan diri (restraint coping), merupakan suatu respon yang dilakukan iindividu dengan cara menahan diri (tidak terburu-buru dalam mengambil tindakan) sambil menunggu waktu yang tepat. Respon ini dianggap bermanfaat dan diperlukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
  5. Mencari dukungan sosial secara instrumental (seeking social support for instrumental reason), adalah merupakan upaya yang dilakukan untuk mencari dukungan sosial, baik kepada keluarga maupun orang disekitarnya, dengan cara meminta nasihat, informasi, atau bimbingan.

b. Perilaku Coping yang Berorientasi Pada Emosi (Emotion Focused Coping-EFC)
Adalah strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian devensif. Aspek-aspeknya adalah:

  1. Mencari Dukungan Sosial Secara Emosional (seeking social support for emotional reasons), merupakan upaya untuk mencari dukungan sosial seperti, mendapat dukungan moral, simpati atau pengertian.
  2. Reinterpretasi positif (positive reinterpretation),  yaitu merupakan respon yang dilakukan individu dengan cara mengadakan perubahan dan pengembangan pribadi dengan pengertian yang baru dan menumbuhkan kepercayaan akan arti makna kebenaran yang utama yang dibutuhkan dalam hidup.
  3. Peneriman diri (acceptance), yaitu individu menerima keadaan yang terjadi apa adanya, karena individu menganggap sudah tidak ada yang dapat dilakukan lagi untuk merubah keadaannya serta membuat suasana lebih baik.
  4. Penyangkalan (denial), yakni upaya untuk mengingkari dan melupakan kejadian atau masalah yang dialami dengan cara menyangkal semua yang terjadi (seakan-akan sedang tidak mempu nyai masalah).
  5. Kembali kepada ajaran agama (turning to religion), yaitu usaha untuk melakukan dan meningkatkan ajaran agama yang dianut. Aspek ini meliputi: menjalankan ajaran agama dengan baik dan benar, berdoa, memperbanyak ibadah untuk meminta bantuan pada Tuhan dan lain sebagainya.

3.      Faktor yang mempengaruhi Coping

Menurut Parker (1986) ada tiga faktor utama yang dapat mempengaruhi seseorang dalam melakukan Coping:

a.      SKarakteristik Situasional

Dalam melakukan coping, seseorang akan melihat dan menilai dan menilai situasi yang dihadapinya apakah dapat terkontrol atau dirubah, diinginkan atau tidak diinginkan, menantanng atau mengancam. Jika individu menilai bahwa kejadian atau masalah yang dihadapinya menantang, maka ia akan bertindak secara rasional, berpikir positif dan percaya diri dalam mengatasi permasalahannya. Namun sebaliknya, jika situasi dinilai mengancam, maka biasanya ia akan kembali kepada kepercayaan atau agama yang dianut, berpikir tentang kematian atau mengharapkan dipenuhinya semua keinginan oleh Tuhan.

b.      Faktor Lingkungan

Faktor ini meliputi lingkungan fisik dan psikososial yang dapat mempengaruhi perilakuan perasaan individu. Peran lingkungan, seperti rumah tangga, lingkungan sekitar, tempat kerja, dan lain sebagainya, akan mempengaruhi coping yang dilakukan oleh seseorang. Bentuk perilaku coping dengan cara menarik diri biasanya terjadi pada seseorang yang berasal dari keluarga yang kurang mendukung satu sama lain, kurang harmonis  dan dari status sosial ekonomi yang rendah.

c.       Faktor Personal Atau Perbedaan Individu

Karakteristik perbedaan individu yang mempengaruhi manivestasi coping antara lain jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, persepsi terhadap stimulus yang dihadapi dan tingkat perkembangan kognitif individu.


2 thoughts on “Strategi Coping

Jangan Lupa Komentarnya Yaa :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s